Monday, August 13, 2007

SUNGGUH MEMALUKAN SUKU JAWA ANJING BABI UTK BANGSA INDONESIA DI MASA DEPAN!!!


Myspace Profile Tracker World Visitor Map
Myspace Profile Tracker World Visitor Map



LOOK AT THIS INDONESIAN PEOPLE ESPECIALLY THE JAVANESE WHO FUCKED IT UP INDONESIAN FUTURE AND DESTROYED ALL THE GOOD PLANS MADE BY THE DUTCH.NOTHING BUT CORRUPTION AND GROWING HOME TERRORIST JIHAD LASKAR ISLAM.

OptionsDisableSearch Put Snap Shots on Google
Carut Marut Indonesia
Just another WordPress.com weblog
--------------------------------------------------------------------------------
« 6. BANGSA INDONESIA WAJIB MENGGUGAT ITB, UI DAN UGM5. MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN? »6. BANGSA INDONESIA WAJIB MENGGUGAT ITB, UI DAN UGM
Rusak Parah Justru Setelah Merdeka




Pejabat tinggi pemerintah atau parpol atau TNI atau agamawan sering mengkambinghitamkan Belanda bersama jaman kolonialnya. Padahal, rusak parahnya Indonesia justru setelah merdeka. Hutan dan kebun rusak parah (jaman Belanda perkebunan mengalami kejayaan dunia, misal gula, teh, dan kopi), tata kota rusak (jaman Belanda, Bandung disebut Paris van Java, saluran air pembuangan dan irigasi luar biasa bagusnya, kali Ciliwung dapat dilayari), per kereta apian rusak parah (jaman Belanda bagus sekali), pelanggaran HAM dari yang kecil s/d berat sering terjadi (jaman Belanda, penentang Belanda masih diadili secara fair dan paling diasingkan ke pulau lain, tidak dibunuh, misal Bung Karno dan Diponegoro), korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) nomor wahid didunia (jaman Belanda, KKN nyaris tidak ada), birokrasi pemerintah sangat tidak efisien, suka mempersulit rakyat (jaman Belanda, birokrasi sangat rapi dan effisien). Jikalaupun, Belanda masih menjajah sampai dengan saat ini, mereka pasti tidak akan tega merusak alam dan lingkungan seperti yang terjadi saat ini, sebagai contoh kerusakan alam dan lingkungan di: Freeport, Bangka, Kalimantan, Sumatra, dst. Pun jika mereka mengambil hasil alam, mereka pasti membangun (lihat jalan raya, jalan KA, saluran air, bendungan dst.), sebaliknya perilaku pemerintah pusat di Jakarta ternyata jauh melebihi penjajah, cuman mengambil/mencuri kekayaan alam dan meninggalkan kerusakan lingkungan, kemiskinan dan kebodohan masyarakat setempat! Tak heran bila Aceh ingin merdeka, Riau ingin merdeka, Papua ingin merdeka, dan sebentar lagi dapat diramalkan Kalimantan pun menuntut merdeka (bila perilaku Jakarta tidak berubah). Padahal kita punya ITB, UI, & UGM, mengapa setelah merdeka justru Indonesia rusak parah (alam, lingkungan, dan moral)? Dimanakah kecerdasan sivitas akademika PTN top itu?




Produsen Koruptor dan Keranjang Sampah




Seperti diketahui, UI, ITB, dan UGM adalah institusi perguruan tinggi negeri (PTN) tertua, terbesar dan termaju di Indonesia. Jadi, mereka adalah pencetak para PNS (peg. Negeri sipil) terbesar di Indonesia, dan alumni mereka saat ini menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan, dari pegawai menengah (IIIA), eselon dua, eselon satu, penasehat presiden dan menteri, jadi boleh dikata mereka ini “menguasai” Indonesia! Disamping itu, UI, ITB, dan UGM adalah bagaikan barometer kecerdasan bangsa Indonesia.

Sayang sekali, kita dan dunia telah memahami bahwa:

- Indonesia terkenal sebagai negara terkorup didunia (selalu dalam tiga besar)

- Birokrasi Indonesia adalah birokrasi keranjang sampah.

- Telah terjadi korupsi berjamaah; ini ibarat mengatakan bahwa korps PNS/BUMN itu adalah jemaah koruptor.



Atas dasar berbagai alasan diatas, maka dapatlah dikatakan bahwa ITB, UI, dan UGM ADALAH PRODUSEN KORUPTOR TERBESAR DIDUNIA dan PRODUSEN TERBESAR BIROKRAT KERANJANG SAMPAH! Reuni alumni mereka, yang pada umumnya megah-meriah, adalah bagaikan reuni jemaah koruptor, para pelaku KKN, para perusak bangsa!




Krisis Multi Dimensi


Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini. Institusi top seperti UI, ITB, dan UGM ternyata tidak juga mampu mengatasi. Pembodohan sejarah, pelanggaran HAM dan KKN kelas berat tak pernah dapat diselesaikan. Apakah level moralitas, IQ dan EQ sivitas akademika UI, ITB, dan UGM baru setarap itu?




Penutup




Kami adalah para pelajar pasca sarjana di Eropa yang berasal dari luar P. Jawa, bukan alumni dari UI, ITB, dan UGM. Ibarat menonton pertandingan catur atau sepakbola dari jauh (dan tidak terlibat emosi), kami lebih dapat menjaga jarak dan menganalisa secara jernih apa yang terjadi di tanah air. Kami prihatin, malu, berduka, marah, sedih … bercampur aduk, sulit dilukiskan, atas prestasi sivitas akademika UI, ITB, dan UGM. Mereka semestinya mampu membawa bangsa ini ketingkat kualitas yang baik dari sisi kesejahteraan, kepandaian, keamanan, ketentraman, dan moral. Namun ternyata tidak, maka kita perlu menggugat dan menggugah mereka, jangan tidur, jangan mau dininabobokan, bangkit dan sadarlah saudara2ku!

This entry was posted on Monday, March 19th, 2007 at 6:19 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply
Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website





--------------------------------------------------------------------------------
Blog at WordPress.com.
Entries (RSS) and Comments (RSS).





OptionsDisableSearch Put Snap Shots on Google
Carut Marut Indonesia
Just another WordPress.com weblog
--------------------------------------------------------------------------------
« 6. BANGSA INDONESIA WAJIB MENGGUGAT ITB, UI DAN UGM4. BOM BALI, POSO, dan AMBON: CLASH OF CIVILIZATION! »5. MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?



Pengantar


Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).

Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)



Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:

- Bs. Belanda selama 300 tahunan

- Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan

- Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).

- Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.

- Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).



Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.

Gerilya Kebudayaan

Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:

- Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.

- Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.

- Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.

- Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.

- Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.

- Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.

- Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.

- Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!

- Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai

- Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!

- Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.

- Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!

- Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

- Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!

- Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

- Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!

Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:

- Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.

- Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.

- Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
- Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!

- Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?

- Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!

- Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.

- Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.




Penutup




Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.



Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.



Sumbangan dari Forum Religiositas Agama

di Yogyakarta dan Bali

email:



This entry was posted on Monday, March 19th, 2007 at 6:21 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply
Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website





--------------------------------------------------------------------------------
Blog at WordPress.com.
Entries (RSS) and Comments (RSS).







OptionsDisableSearch Put Snap Shots on Google
Carut Marut Indonesia
Just another WordPress.com weblog
--------------------------------------------------------------------------------
« 5. MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?3. INDAHNYA BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN REFORMASI »4. BOM BALI, POSO, dan AMBON: CLASH OF CIVILIZATION!
Bung Karno (BK) adalah tokoh internasional, tidak hanya nasional. BK, sebagai manusia yang tergolong jenius, mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah: non blok, mandiri (berdikari: berdiri diatas kaki sendiri), bhineka tunggal ika (menghargai pluralisme), berazas Pancsila, dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (”Go to hell with your aids!”). Bersama RRC dan India (sahabat2 BK), mereka sanggup membuat dunia terkejut dengan gerakan non blok yang diawali dari konferensi Asia Afrika di Bandung. Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan pengkianatan terhadap negaranya sendiri, menusuk BK dari belakang, dengan cara melakukan konspirasi jahat bersama USA (via CIA+mafia Berkeley+mafia West Point, mohon baca artikel yang lain). Saat meletus G30S ditahun 1965, Indonesia dijadikan ajang pertempuran ideologi besar dunia, antara USA dkk (kapitalis) vs. Rusia dkk. (komunis), yang menang USA; sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia. Sejak saat itu, Indonesia menjadi negara boneka USA. Sebagai pemenang, regim militer dibawah Soeharto beserta USA dkk., menjadi kelompok yang paling menikmati kekayaan negara ini, dari Sabang hingga Merauke, dari gas alam di Aceh (LNG Arun) s/d Free Port di Irian, dan ini berlansung sejak 1965 s/d 1998 (32 tahun)! Maka boleh dikata sepertiga kekayaan bangsa telah jatuh ketangan asing, sepertiga jatuh ke regim Soeharto (militer + kroninya) di pusat Jakarta, hanya sepertiga untuk rakyat Indonesia.



Lamakelamaan Suharto mulai sadar bahwa negara RI telah ia gadaikan ke USA dkk., dan telah diperas habis2an oleh mereka. Seperti Sadam Husein dan Osama Bin Laden, Soeharto juga ingin melepaskan diri dari tekanan USA. Ketika itu regim ORBA juga sudah diambang kejatuhan akibat tekanan reformasi. Untuk melawan USA dan kaum reformis, maka strategi terjitu adalah politisasi agama (dalam hal ini agama Islam). Maka Suharto lalu mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian Soeharto dan para kroni naik haji, Soeharto menjadi Haji Muhamad Soeharto, Bob Hasan menjadi Haji Muhamad Hassan, sedangkan mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi sepulang dari Arab lalu memakai jilbab. Disamping itu, regim ORBA juga mendirikan ICMI dan memperkuat barisannya di MUI. Mulai sekitar 1990, boleh dikata Indonesia telah dialihkan dari ideologi Barat ke ideologi Timur Tengah (negara2 Arab).



Usaha regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) ternyata dapat digagalkan. Dengan demikian, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.) namun gagal, kemudian terlanjur dimasukan mulut buaya (Timur Tengah). Regim Soeharto hingga kini memang selamat-sehat walafiat berkat politisasi uang dan agama; namun dengan efek sampingan yang parah sekali: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama.



Akibat strategi “save exit” Regim Orba yang sukses diatas, negara Timur Tengah seperti mendapat angin! Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Timur Tengah) untuk mendominasi kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, bahkan menjadi begitu kuat dan begitu vulgarnya. Mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG) adalah terbatas umurnya, diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak hanya sekitar 15 tahun lagi, disamping itu penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya, maka negara2 TIMTENG harus berjuang cepat dan sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa dari alternatip lain, strategi termudah adalah politisasi agama Islam (mirip Soeharto dan Osama Bin Laden), sebab agama Islam, budaya Arab, dan bahasa Arab adalah sumber devisa dimasa depan yang menarik, misalnya melalui touristm berbasis agama alias ibadah haji, pendidikan agama dan kebudayaan berbasis Arab, dst. Dampak gelombang politisasi agama Islam dari negara TIMTENG/Arab sangat terasa sekali dengan banyaknya pergolakan di: Thailand selatan, Philipina, Afganistan, dan Indonesia (Ambon, Poso, Tangerang, Jawa Barat, dst). Di Indonesia, hal ini mudah dirasakan dengan terusiknya pluralisme atau Bhineka Tunggal Ika. Beberapa mahasiswapun ikut terbuai gerakan untuk mendirikan negara Islam Indonesia (NII); mereka berhasil di cuci otak dan dibaiat (sumpah) lalu menjadi mabok agama; nalar intelektual para mahasiswa ini bagaikan lenyap diterpa badai gurun Sahara! Tanpa merasa malu dan asing, mereka menjiplak persis budaya Arab, lalu mereka melupakan budaya sendiri! Beragama yang baik harus tetap secara bijak, nalar dan logik, harus dapat membedakan antara agama dan kebudayaan (sebagai pembungkusnya)! Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika.



Sayang sekali, CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama, kurang atau tidak dipahami oleh kaum cerdik-pandai terutama sivitas akademisi di PTN2 TOP, sepertinya banyak dari mereka yang justru terlibat, mungkin dikarenakan mabok/mendem agama – sehingga nalar menjadi sirna. Dar…der..dor…blung…bum, bunyi bom dan bedil dimanamana; dengan cukup Nordin Top, Basyir, Habib Riziq, dkk., mereka (negara asing) mampu mengobrak-abrik Indonesia dengan bebas dan perkasa, seolah-olah bangsa ini sudah tidak ada kejantanan dan wibawanya lagi. Polisi tak berkutik, sebab ada ‘militer hijau’ yang melindunginya. Dengan demikian, semenjak 1965 s/d detik ini (2007), bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka sepenuhnya! Visi-misi Bung Karno, yang non blok dan cinta budaya sendiri, seperti India dan RRC (negara sahabat BK, yang saat ini sedang menginjak menjadi negara adidaya), untuk menjadi negara yang mempunyai kepribadian sendiri dan mandiri, saat ini hanya tinggal kenangan… Indonesia sampai detik ini (2007) sekedar menjadi ajang pertempuran ideologi asing… Sungguh sayang seribu sayang. Dimanakah nalar, nurani dan kebijaksanaan bangsaku?

Anda punya solusi? Tolong sampaikan pada kami. Terima kasih.



Sumbangan dari Forum Religiositas Agama

di Yogyakarta dan Bali



This entry was posted on Monday, March 19th, 2007 at 6:23 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply
Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website





--------------------------------------------------------------------------------
Blog at WordPress.com.
Entries (RSS) and Comments (RSS).

No comments: